Antara Pemerolehan Bahasa Dan Pembelajaran Bahasa

pembelajaran bahasa

Bahasa adalah unsur pendukung kelangsungan hidup manusia, pasalnya ia merupakan alat tunggal untuk memenuhi kebutuhan  komunikasi antara individu-indivudu yang ada dimasyarakat[1]. Rusdy Ahmad Tu`aimah mendefinisikan bahasa sebagai sekumpulan simbol berupa ujaran/ucapan yang sistematis yang diketahui bersama oleh masyarakat yang mempunyai satu budaya, dengan tujuan untuk mewujudkan komunikasi diantara mereka.[2]

Definisi diatas cukup menggambarkan akan signifikansi bahasa bagi suatu masyarakat tertentu, dimana komunikasi adalah tujuan utama dari bahasa itu sendiri. Maka setiap individu, berkewajiban menguasai bahasa untuk dapat berkomunikasi dengan bahasa masyarakatnya, yang kemudian kita sebut proses pengguasaan bahasa pertama ini dengan pemerolehan bahasa. Seiring berjalannya waktu, manusia dituntut untuk dapat berkomunikasi bukan hanya dengan masyarakatnya tapi juga dengan masyarakat lain yang berlainan bahasa. Inilah yang menuntut ia untuk memahami dan menguasai bahasa mereka yaitu bahasa kedua/asing, proses ini yang kita sebut pembelajaran bahasa.

pemerolehan bahasa mempunyai ciri-ciri yang membedakannya dengan pembelajaran bahasa, yaitu: pemerolehan bahasa adalah proses untuk pengguasaan bahasa pertama sedangkan pembelajaran untuk bahasa kedua, lingkungannya memberikan ia lebih banyak model untuk ditiru (imitation) sedangkan pembelajaran sebaliknya, motivasinya untuk memenuhi kebutuhan yang sangat dasar sedangkan pembelajaran untuk pekerjaan, akademis dll, kemudian pemerolehan biasanya terjadi pada waktu lebih dini (critis period) daripada pembelajaran bahasa.

Dari penjelasan singkat diatas pembaca dapat mengambil kesimpulan bahwa pemerolehan bahasa dan pembelajaran bahasa memiliki perbedaan. Meskipun begitu diantara keduanya juga memiliki persamaan.

Persamaan antara pemerolehan dan pembelajaran bahasa:

  1. Praktek (الممارسة): baik pemerolehan maupun pembelajaran pada hakikatnya adalah pembentukan kebiasaan berbahasa sehingga ia menjadi kemampuan (capability) yang sulit itu dirubah. Jadi praktek merupakan syarat wajib untuk memperoleh maupun pembelajaran bahasa.
  2. Meniru (التقليد): meniru model yang ada disekitar dalam berlaku baik pemerolehan maupun pembelajaran. Baik dari aspek suara, kalimat, dan metode menggunakannya (konteks) yang diperoleh pembelajar adalah berasal dari model yang ditirunya, yaitu guru atau penutur asli (native language).
  3. Memahami (الفهم): secara alami, pembelajar memahami bahasa terlebih dahulu sebelum ia menggunakannya. Sehingga kita sering menemukan orang yang hanya bisa memahami tapi tidak mampu menggunakan suatu bahasa.
  4. Runtun dalam ketrampilan bahasa (ترتيب المهارات اللغوية):
  5. Mempelajari kaidah-kaidah bahasa (تعلم النحو):

Sedangkan perbedaan antara pemerolehan dan pembelajaran bahasa:

  1. Perbedaan Motivasi/tujuan (اختلاف الدوافع):
  2. Perbedaan lingkungan (اختلاف البيئة):
  3. Model (فقدان النموذج):
  4. Perbedaan Waktu (اختلاف الوقت):
  5. Konteks belajar (مواقف التعلم):

Persamaan dan perbedaan antara keduanya harus diketahui dan dipahami oleh seorang pendidik bahasa arab, sehingga ia dapat mengkondisikan pembelajaran bahasa dengan efektif dan efisien sesuai dengan konteks yang ia hadapi. Sehingga ia tidak memaksakan proses pemerolehan terhadap pembelajaran bahasa, dan juga sebaliknya.


[1] Acep hermawan, metodologi pembelajaran bahasa arab, Bandung, 2011, Hal.23

[2]رشدي أحمد طعيمة، المرجع في تعليم اللغة العربية، القسم الأول، جامعة ام القرى، 1986، ص. 135

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s