Peranan Psikolinguistik Dalam Pembelajaran Bahasa Arab

makalah dipulikasikan di jurnak takdib 2013
(jurnal fakultas Tarbiyah Universitas Darusslam Ponorogo)

Oleh: Mochamad Ismail, M.Pd.i[1]

Fenomena bahasa dan berbahasa adalah hal yang erat kaitannya dengan kehidupan manusia. Bahasa merupakan kajian ilmu linguistik, dimana bahasa dipelajari sebagai bahasa yang mencakup komponen bahasa yaitu: fonologi, morfologi, sintaksis, semantik. Sedangkan berbahasa merupakan kajian Psikolinguistik, yang mengkaji kegiatan manusia dalam memperoleh (acquitation), meresepsi  (reception) dan memproduksi (production) bahasa itu,[2] berbahasa dimulai dari enkode simantik dan sintaksis dalam otak penutur dan berujung pada dekode simantik dan dekode sintaksis dalam otak pendengar.

Hasil kajian psikolinguistik banyak dimanfaatkan dalam memahami pemerolehan bahasa pertama maupun dalam pembelajaran bahasa kedua atau bahasa asing. Pasalnya, ruang lingkup kajian psikolinguistik sangat bermanfaat bagi pembelajaran bahasa, diantaranya: dengan mengetahui teori-teori psikologi pembelajaran dan teori-teori linguistik, seorang guru –unsur penting pembelajaran bahasa- mampu memilih tujuan, materi, metode, evaluasi yang sesuai dengan psikologi pelajar dan menguasai prinsip pendidikan.  

Di dalam kurikulum pendidikan bahasa pada lembaga pendidikan tenaga kependidikan mata kuliah psikolinguistik dimasukkan dalam kelompok mata kuliah proses belajar-mengajar, dan bukan pada kelompok mata kuliah linguistik/kebahasaan.[3] Hal ini karena pokok bahasan dalam psikolinguistik  sangat erat kaitannya denga kegiatan proses belajar-mengajar bahasa itu

Tulisan ini mencoba memaparkan pengertian dan ruang lingkup psikolinguistik, pembelajaran bahasa Arab kemudian menguraikan peranan dan signifikasi psikolinguitik dalam pembelajaran bahasa Arab yang dijabarkan melalui unsur-unsur kurikulum pembelajaran bahasa Arab (tujuan, materi, metode, evaluasi) dan prinsip-prinsip pembelajaran bahasa.

Kata kunci: psikolinguitik, pembelajaran bahasa Arab, peranan, unsur-unsur kurikulum, prinsip pembelajaran bahasa

 

 

PENDAHULUAN

Bahasa merupakan satu wujud yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, sehingga dapat dikatakan bahwa bahasa itu adalah milik manusia yang telah menyatu dengan pemiliknya. Sebagai salah satu milik manusia, bahasa selalu muncul dalam segala aspek dan kegiatan manusia. Tidak ada satu kegiatan manusia pun yang tidak disertai dengan kehadiran bahasa.[4] Sehingga definisi bahasa pun sangat beragam seiring beragam sudut pandang yang dipakai, ibnu Jinni mendefinisikan bahasa sebagai “aswatun yu’abbiru bihaa kullu qaumin ‘an agraadihim” ‘bunyi yang diekspresikan oleh semua kelompok masyarakat untuk menyatakan maksud mereka’,[5] sedangkan para pakar linguistik mendefinisikan bahasa sebagai satu sistem lambang bunyi yang bersifat arbitrer (kebetulan), yang digunakan sekelompok anggota masyarakat untuk berinteraksi dan mengidentifikasi diri.[6]

Dewasa ini, besarnya tuntutan penelitian akademis dalam kehidupan telah menyebabkan perlunya dilakukan kajian bersama antara dua disiplin ilmu atau lebih. Kajian antardisiplin ini diperlukan untuk mengatasi berbagai persoalan dalam kehidupan manusia yang semakin kompleks.

Sebagaimana aktifitas berbahasa yang merupakan kegiatan kompleks manusia, selain berkenaan dengan masalah bahasa, juga berkenaan dengan masalah proses penggunaan bahasa tersebut. kegiatan berbahasa bukan hanya berlangsung mekanistik, tetapi juga berlangsung secara mentalistik, artinya kegiatan berbahasa itu berkaitan juga dalam proses atau kegiatan mental (otak). Oleh karena itu, kajian berbahasa ini tidak cukup dengan ilmu linguistik saja, tapi perlu dilengkapi dengan studi tentang proses mental atau akal yaitu, psikologi yang mengkaji tentang proses-proses mentalistik. Maka lahirlah psikolinguitik, yang merupakan gabungan antara dua ilmu tersebut, dengan tujuan dapat mendeskripsikan aktifitas berbahasa manusia lebih akurat dan jelas.

PENGERTIAN PSIKOLINGUISTIK

Secara etimologi kata psikolinguistik terbentuk dari kata psikologi dan kata linguistik yakni dua bidang ilmu yang berbeda, yang masing- masing berdiri sendiri dengan prosedur dan metode yang berlainan. Namun keduanya sama-sama meneliti bahasa sebagai obyek formalnya. Hanya obyek materinya yang berbeda, linguistik mengkaji tentang bahasa dari segi fonologi, morfologi, sintaksis, semantik,[7] sedangkan psikologi mengkaji prilaku berbahasa atau proses berbahasa. Dengan kata lain linguistik berkaitan dengan kompetensi bahasa (language competency) sedangkan psikolinguistik berhubungan dengan performansi dari kompetensi bahasa tersebut (language performance).

Emmon Bach dengan singkat dan tegas mengutarakan bahwa psikolinguistik adalah suatu ilmu yang meneliti bagaimana sebenarnya para pembicara atau pemakai suatu bahasa membentuk atau membangun atau mengerti kalimat bahasa tertentu tersebut.[8]

Sedangkan menurut Paul Fraisse menyatakan bahwa :” Psycholinguistics is the study of relations between our needs for expression and communication and the means offered to us by a language learned in one’s childrood and later”. Psikolinguistik adalah telaah tentang hubungan antara kebutuhan – kebutuhan kita untuk berekspresi dan berkomunikasi melalui bahasa  yang kita pelajari sejak kecil dan tahap-tahap selanjutnya.[9]

Dari beberapa definisi diatas, psikolinguistik berdasarkan ruang lingkupnya adalah ilmu yang mempelajari aktifitas berbahasa manusia, baik pemerolehan, pemahaman dan penggunaan bahasa.

Psikolinguistik merupakan ilmu yang terlahir dari perpaduan ilmu linguistik dan psikologi. Perpaduan antardisiplin ilmu ini bertujuan agar manusia lebih mampu menguraikan fenoma kompetensi-performansi bahasa yang terjadi di kehidupan masyarakat. Karena linguistik hanya membatasi kajian pada permasalahan bahasa, begitu juga psikologi yang mengkaji akal manusia.

RUANG LINGKUP PSIKOLINGUISTIK

Psikolinguistik mencoba menganalisis obyek linguistik dan obyek psikologi dengan menitikberatkan kajiannya pada bidang  psikolingi, psikolinguistik mencoba menjelaskan bahasa dilihat dari aspek psikologi dan sejauh yang dapat dipikirkan oleh manusia.

Psikolinguistik merupakan ilmu linguistik terapan (applied linguistics) yang membahas fenomena berbahasa atau hubungan bahasa dengan akal, sebagaimana ilmu sosiolinguistik, neurolinguistik, leksikologi, pembelajaran bahasa, semuanya membahas kaitan bahasa dengan aspek-aspek eksternal bahasa.

Di dalam kurikulum pendidikan bahasa pada lembaga pendidikan tenaga kependidikan mata kuliah psikolinguistik dimasukkan dalam kelompok mata kuliah proses belajar-mengajar, dan bukan pada kelompok mata kuliah linguistik/kebahasaan. Hal ini karena pokok bahasa dalam psikolinguistik  erat kaitannya denga kegiatan proses belajar-mengajar bahasa itu, yang mencakup antara lain:[10]

  • Hakikat bahasa, fungsi bahasa, komponen bahasa, alat-alat pemerolehan dan pembelajaran bahasa yang dimiliki manusia.
  • Proses lahirnya suatu bahasa, pemerolehan bahasa pertama (bahasa ibu), pembelajaran bahasa kedua, penguasaan bahasa kedua, ketiga atau banyak bahasa.
  • Aktifitas otak saat proses berbahasa berlangsung, hubungan antara bahasa dengan pikiran dan budaya.
  • Gangguan-gangguan dan penyakit berbahasa (seperti: afasia) dan penyembuhannya.
  • Pembelajaran bahasa yang baik.

PEMBELAJARAN BAHASA ARAB

قال الثعلبي: مَنْ أَحَبَّ اللهَ تعالى أَحَبَّ رَسُولَهُ مُحَمُّدًا صلّى اللهُ عليهِ وَسَلَّمَ، ومَن أحَبَّ الرَّسولَ العَرَبِيَّ أَحَبَّ العَرَبَ، ومَن أحَبَّ العَرَبَ أحَبَّ العَرَبِيَّةَ الّتِي نَزَلَ بِها أَفْضَلُ الكُتُبِ، عَلىَ أفضلِ العربِ والعَجَمِ، ومَن أحَبَّ العَرَبِيَّةَ عُنِيَ بِهَا، وَثَابَرَ عَلَيها وَصَرَفَ هِمَّتَهُ إِلَيهَا، والعربيَّةَ خيرُ اللُّغَاتِ والأَلْسِنَةِ، والإِقْبَالَ على تَفَهُّمِهَا مِنَ الدِّيَانَةِ، إِذْ هِيَ أَدَاةُ العِلْمِ، ومِفْتَاحُ التَّفَقُّهِ في الدِّينِ، وَسَبَبُ إِصْلاحِ المَعَاشِ والمَعَادِ، ثُمَّ هي لإِحْرَازِ الفَضَائِلِ والإِحْتِوَاءِ عَلَى المُرُوءَةِ وسَائِرِ المَنَاقِبِ كَاليَنبُوعِ لِلمَاءِ والزَّندِ لِلنَّارِ.

Al-Tsa’labi berkata:
“Barangsiapa mencintai Allah, hendaklah dia mencintai Rasul-Nya Muhammad s.a.w
Barangsiapa mencintai Rasulullah s.a.w yang berbangsa Arab, hendaklah dia mencintai bangsa Arab. Barangsiapa yang mencintai bangsa Arab, hendaklah dia mencintai bahasa Arab yang menjadi bahasa pilihan untuk sebaik-baik kitab yang diturunkan kepada orang yang paling utama di kalangan bangsa Ajam (bukan Arab) dan Arab. Barangsiapa mencintai bahasa Arab, hendaklah dia memberi seluruh perhatian dan segenap tumpuan kepadanya. Bahasa Arab adalah sebaik-baik bahasa, berusaha untuk memahaminya adalah tuntutan agama, karena bahasa Arab adalah alat untuk memperoleh ilmu pengetahuan, kunci untuk memahami seluk-beluk agama, dan puncak kebaikan di dunia dan di akhirat. Bahasa Arab juga berperan dalam memelihara sifat-sifat mulia, menjaga kepribadian dan seluruh hidup manusia, laksana mata air yang mengalirkan air dan pemetik api yang menyalakan api.”[11]

Bahasa Arab merupakan bahasa agama dan juga bahasa komunikasi dunia pada zaman global saat ini,[12] sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa urgensi pembelajaran bahasa Arab dianggap sangat urgen dewasa ini baik muslim maupun non-muslim. Tapi anggapan ini tampaknya belum dirasa perlu oleh para ulama Arab-muslim dulu, karena umat muslim Arab maupun non-Arab mempunyai motivasi yang kuat untuk mempelajari bahasa Arab yang berkedudukan sebagai bahasa agama Islam dan pemerintahan, sehingga dengan kuatnya keinginan yang mulia ini dapat mengatasi masalah-masalah pembelajaran yang seperti kita rasakan saat ini, seperti metode, media pembelajaran, maupn bahan bahan ajar. Hal ini berbeda dengan pembahasan tentang bahasa atau ranah linguistik, ulama muslim sangat giat membahas bidang ini ketika barat masih hidup dalam kegelapan dan kemunduran dalam segala lini, sehingga sangat mudah untuk menemukan buku-buku ilmu nahwu, ilmu sharf, ilmu aswaat, ilmu ma`ajim, dll yang merupakan karya ulama Arab-muslim terdahulu.[13] Implikasinya, dalam pembelajaran bahasa Arab, kita banyak mengambil teori, metode, dan teknik pembelajaran dari barat.

Pembelajaran bahasa Arab untuk non-Arab dewasa ini mengikuti pembelajaran bahasa asing (foreign language education), salah satu bidang kajian dari ilmu linguistik terapan (applied linguistics). Sebagaimana pembelajaran bahasa asing yang lain, pembelajaran bahasa Arab juga dipengaruhi oleh teori linguistik maupun psikologi modern yang lahir di negeri-negeri barat seperti Amerika, Inggris, Swiss.

KURIKULUM PEMBELAJARAN BAHASA ARAB

Kurikulum secara etimologi berarti rencana pembelajaran yang akan dilaksanakan untuk merealisasikan tujuan pembelajaran. Sedangkan Rusydy Tu’aimah menafsirkan kurikulum dalam konteks pembelajaran bahasa Arab sebagai sistem yang dirancang sedemikian rupa yang bertujuan membekali pelajar bahasa Arab dengan pengalaman belajar baik kognitif (المعرفي) afektif (الوجداني) dan psikomotorik (النفس الحركي) agar mereka mampu berkomunikasi dengan bahasa Arab.[14]

Rusydy Tu’aimah menukil dari Tyler, dia memaparkan 4 unsur-unsur kurikulum yang harus diperhatikan oleh pengajar yaitu:

  1. 1.      Tujuan Pembelajaran (الأهداف)

Ada pepatah mengatakan: if you are aiming nothing, you will hit nothing, jika kamu tidak menetapkan tujuan, maka tidak akan mendapatkan apa-apa. Tujuan dalam pembelajaran ibarat masterplan bangunan yang ingin kita bangun, yang menentukan bahan baku apa yang kita perlukan, begitu juga cara kita membangunnya. Tujuan pembelajaran menjadi penentu materi dan metode yang akan digunakan dalam proses belajar-mengajar, disamping itu ia merupakan tolak ukur keberhasilan dalam suatu pembelajaran, jika suatu lembaga pendidikan mengajarkan bahasa Arab bertujuan  memberi kemampuan murid-muridnya untuk membaca kitab kuning (كتب التراث), maka materi terfokus kepada ketrampilan membaca (فهم المقروء) dengan memakai metode membaca (طريقة القراءة) dan metode kaidah terjemah (طريقة القواعد والترجمة). Jika setelah pelaksanaan pembelajaran, pelajar mampu membaca kitab kuning hasil dari proses belajar-mengajar di lembaga tersebut, maka dikatakan pembelajaran bahasa Arab berhasil.

Rusdy Tu’aimah menetapkan beberapa tujuan pembelajaran bahasa Arab untuk non-Arab sebagai berikut:[15]

  1. Pelajar mampu berkomunikasi dengan bahasa Arab hampir atau seperti pemilik bahasa Arab (ناطق بالعربية)
  2. Meningkatkan kompetensi bahasa pelajar yaitu: ketrampilan mendengar (مهارة الاستماع) berbicara (مهارة الكلام) membaca (مهارة القراءة) menulis (مهارة الكتابة).
  3. Pelajar mengetahui karakteristik bahasa Arab dari aspek fonologi, leksikologi, struktur kalimat.
  4. Pelajar mengetahui budaya Arab, karakteristik dan lingkungan orang Arab.
  1. 2.      Materi Pembelajaran (المحتوى)

Materi pembelajaran adalah sekumpulan pengalaman pembelajaran, pengetahuan, dan ketrampilan yang ingin disampaikan kepada pelajar agar mereka menguasainya,[16] beberapa pakar memberikan kriteria atau aspek yang layak dipertimbangkan dalam pemilihan materi pembelajaran bahasa Arab:

Validitas (الصدق)

Materi pembelajaran bahasa Arab harus relevan dengan realita kehidupan pelajar, disamping itu ia juga memenuhi standar akademis, dll.

Signifikasi (الأهمية)

Materi dianggap penting jika mempunyai urgensi dalam kehidupan pelajar, seperti pengetahunan, nilai-nilai dalam masyarakat, ketrampilan-ketrampilan yang mempunyai relevansi dan urgensi dalam menjadikan mereka orang yang bermanfaat bagi agama dan bangsa.

Kecenderungan Pelajar (الميول والاهتمامات)

Pemilihan materi pembelajaran sesuai dengan kecendurungan pelajar, misalnya pengajar dapat memilih beberapa tema pembelajaran bahasa Arab yang sesuai dengan hobi pelajar dengan memperhatikan tujuan pembelajaran.

Learned Ability (قابلية للتعلم)

Materi pembelajaran disesuaikan dengan tingkat kemampuan, umur pelajar, dan juga memperhatikan perbedaan antara individu. Dengan memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran secara bertahap (المبادئ التدرّجية)

Universalitas (عالمية)

Materi pembelajaran dikatakan baik, jika ia mencakup aspek universalitas bagi pelajar sehingga bisa digunakan dimana saja dan tidak terbatas pada daerah atau budaya tertentu.

 

 

  1. 3.      Metode Pembelajaran (الطريقة)

Metode pembelajaran adalah sekumpulan teknik yang digunakan untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran ke arah tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya.[17]

Metode pembelajaran bahasa sangat beraneka ragam, sehingga seorang guru harus jeli dalam memilih metode yang akan dipakai dalam pembelajaran. Yang harus dicatat, bahwa tidak ada metode yang paling benar dan cocok untuk digunakan di segala kondisi, pelajar atau masyarakat. Maka dalam pemilihan metode hendaknya kita mempertimbangkan beberapa hal sebagai berikut:

  1. Tujuan pembelajaran bahasa Arab
  2. Masyarkat atau lingkungan dimana pembelajar berada
  3. Tingkat pelajar dalam pembelajaran bahasa Arab (pemula, menengah, lanjut)
  4. Karakteristik pelajar
  5. Bahasa pertama pelajar

Metode pembelajaran bahasa Arab secara garis besar, dapat dibedakan menjadi 2 macam:[18] pertama, metode pembelajaran  bahasa Arab yang terfokus pada “Bahasa sebagai budaya ilmu” sehingga belajar bahasa Arab berarti belajar secara mendalam tentang seluk-beluk ilmu bahasa Arab, baik aspek gramatika/sintaksis (qowaid nahwu), morfem/morfologi (qowaid sharf) ataupun sastra (adab). Kedua, metode pembelajaran bahasa Arab modern yang berorientasi pada tujuan bahasa sebagai alat. Artinya, bahasa Arab dipandang sebagai alat komunikasi dalam kehidupan modern, sehingga tujuan pembelajaran adalah kemampuan menggunakan bahasa aktif maupun pasif.

Diantara metode pembelajaran bahasa yang terkenal adalah:

  1. 1.      Metode qowaid dan terjamah (طريقة القواعد والترجمة)

Metode yang sering dikenal dengan metode tradisional ini berasumsi pembelajaran bahasa hakikatnya adalah belajar tata bahasa.[19] Pembelajaran bahasa menurut metode ini adalah memberikan kemampuan kepada pelajar untuk membaca naskah teks Arab dan juga memiliki nilai disiplin intelektual kepada pelajar.

  1. 2.      Metode langsung (طريقة المباشرة)

Metode ini lahir sebagai bentuk protes terhadap metode qowaid dan terjamah, lahir pada pertengahan abad ke 19 oleh F.Gouin (1980-1992), pembelajaran dengan metode ini bertujuan untuk memberikan kompetensi berbicara kepada pelajar, karena pembelajaran dengan menggunakan bahasa Arab, hal ini didasarkan kepada proses pemerolehan anak terhadap bahasa pertama.[20]

  1. 3.      Metode audiolingual (الطريقة السمعية الشفوية)

Metode ini lahir pada perang dunia ke 2, ketika Amerika memerlukan tentara-tentara yang mampu berbahasa asing untuk keperluan ekspansinya. Metode ini lebih fokus kepada ketrampilan mendengar dan berbicara, sehingga praktek dalam pembelajaran bahasa guru melakukan latihan-latihan (drills) pengulangan secara intensif, Sehingga metode ini juga dikenal dengan metode ‘burung beo’. Metode ini sesuai dengan teori behaviorisme operant contioning Pavlov, yang menekankan pembiasaan dengan mengulang-ulang.

  1. 4.      Metode silent way (الطريقة الصامتة)

Metode yang digagas oleh C.Gatteno (1972) mempunyai persamaan ide dengan teori kognitifisme Noam Chomsky, yang meyakini bahwa pelajar telah dibekali kemampuan bahasa bawaan. Sehingga pembelajaran sangat bergantung kepada diri pelajar, tugas guru sebagai fasilitator, mengoreksi, mengarahkan dan memberi rangsangan agar mereka mampu mengeluarkan kemampuan mereka tersebut. Pelajar menerima rangsangan tersebut yang kemudian diolah dalam diri mereka untuk dijadikan bagian dari diri mereka. praktek metode silent way adalah guru seminimal mungkin memberikan contoh dan memberikan porsi pembelajaran sebanyak-banyak kepada pelajar.

  1. 5.      Metode eklektik (الطريقة الانتقائية)

Rusdy Thu’aimah mengatakan, “Tidak ada metode pembelajaran bahasa yang paling cocok untuk segala kondisi”, hal ini berdasarkan asumsi bahwa setiap metode mempunyai kekurangan, kelebihan dan fokus kepada ketrampilan tertentu. Sehingga lahirlah metode eklektik yang memberikan kebebasan guru untuk memilih aspek metode-metode yang disesuaikan dengan kondisi pelajar, baik masyarakat dimana ia berada, tingkatan, bahasa pertama, dan tujuan mereka belajar bahasa. Metode eklektif menggabungkan teknik percakapan, membaca, latihan, dan tugas. Pemilihan metode eklektik sangat bergantung kepada kemampuan guru untuk memilih aspek-aspek dari metode-metode dengan menyesuaikan kondisi pembelajaran.

Dapat disimpulkan disini, bahwa metode yang paling cocok adalah yang mampu mengantarkan kita kepada tujuan pembelajaran bahasa Arab pada kondisi pembelajaran tertentu dengan memperhatikan beberapa hal yang telah disebutkan sebelumnya.

  1. 4.      Evaluasi Pembelajaran (التقويم)

Dari pemaparan diatas, dapat disimpulkan bahwa hubungan antara 4 unsur kurikulum dalam proses pembelajaran adalah hubungan timbal balik, tujuan pembelajaran ditentukan sebelum suatu program pembelajaran dilaksanakan, yang kemudian menjadi penentu dalam pemilihan metode maupun materi pembelajaran. Sedangkan evaluasi tidak kalah penting, unsur ini sebagai muhasabah bagi pelaksanaan program pembelajaran baik ketika masih berlangsung atau setelah pelakasanaan pembelajaran. Hubungan timbal balik dari 4 unsur kurikulum ini dapat kita gambarkan dengan skema sebagai berikut:

الأهداف

الطريقة                                                   المحتوى

التقويم

Evaluasi menurut Rusdy Tu`aimah adalah beberapa teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data hasil pembelajaran untuk mengetahui seberapa jauh keberhasilan proses pembelajaran yang sedang atau telah dilaksanakan.[21] Unsur ini digunakan untuk mengevaluasi baik tujuan (تقويم الأهداف) metode (تقويم الطريقة) dan materi (تقويم المحتوى).

 

PRINSIP-PRINSIP PEMBELAJARAN BAHASA ARAB

Ada 3 unsur dalam proses pembelajaran, yaitu: guru, murid dan materi/bahan ajar.[22] Guru bahasa Arab sebagai unsur penting pembelajaran,[23] ia harus mengetahui beberapa prinsip pembelajaran demi tercapai tujuan pembelajaran, prinsip-prinsip tersebut yaitu:

Prinsip-Prinsip Pendidikan (الأسس التربوية)

Pada bagian ini, guru harus memahami kemudian menguasai praktek-praktek dari metode-metode pembelajaran bahasa, sehingga ia mampu memilih dan memilah metode yang sesuai dengan kondisi murid. Metode-metode tersebut sebagai mana diterangkan oleh penulis pada bagian kurikulum, yaitu: metode qowaid dan terjamah (طريقة القواعد والترجمة), metode langsung (طريقة المباشرة), metode audiolingual (الطريقة السمعية الشفوية), metode silent way (الطريقة الصامتة), metode eklektik (الطريقة الانتقائية). Sebagaimana ia juga dituntut untuk dapat menentukan tujuan, materi, dan evaluasi.

Prinsip-Prinsip Psikologis (الأسس النفسية)

Prinsip ini berkaitan dengan pengetahuan tentang teori pembelajaran- psikologi yang harus diketahui oleh guru, karena teori psikologi ini merupakan pendekatan atau teori dari metode pembelajaran bahasa. Prinsip-prinsip psikologis tersebut  adalah:[24]

  1. 1.      Teori behaviorisme (نظرية سلوكية)

Pembelajaran menurut teori ini sangat bergantung kepada faktor-faktor eksternal pembelajaran, seperti lingkungan, pengajar, materi atau bahan ajar, metode yang digunakan. Dan menganggap bahwa teknik pembiasaan tradisional (operant conditioning) pemberian ganjaran dan hukuman (law effect) dan dorongan (reinforcement) adalah teknik yang mestinya digunakan agar tercapai tujuan pembelajaran. Berikut skema proses pemerolehan dan pembelajaran menurut teori behaviorisme:

 

Teori kognitivisme (نظرية معرفية)
Teori kognitivisme sangat menentang anggapan teori behaviorisme yang mengatakan pembelajaran sangat bergantung faktor-faktor eksternal pembelajaran dan akal pelajar seperti kertas kosong yang kemudian diwarnai oleh lingkugannya.

Menurut teori kognitivisme, pembelajaran bukan hanya berkaitan dengan proses psikomotorik tapi juga kognitif, dengan kata lain, akal pelajarlah yang lebih memainkan peran dalam proses pembelajaran daripada faktor eksternal, akal mereka menentukan faktor-faktor ekternal yang akan mereka terima atau pahami dan menghubung-hubungkan pengalaman sebelumnya dengan yang sedang mereka terima. Sedangkan faktor eksternal hanya berperan sebagai perangsang bakat bawaan ini. Berikut skema proses pemerolehan dan pembelajaran menurut teori kognitivisme:

Prinsip-Prinsip Linguistik (الأسس اللغوية)

Prinsip linguistik mengkaji tentang analisis bahasa dan hakikat bahasa, ada 2 teori besar dalam kajian ini yaitu strukturalisme yang merupakan saudara kandung dari teori pembelajaran behaviorisme. Kedua teori transformatif-generatif yang merupakan kandung dari teori kognitivisme.

Teori Strukturalisme (النظرية البنيوية)

Teori digagas oleh Ferdinand de Saussere (1857-1913) seorang linguistik Swiss. Ia berasumsi bahwa bahasa awalnya adalah bunyi atau perkataan yang diucapkan dari pembicara asli bahasa tersebut. oleh karena itu, hendaknya penelitian bahasa dimulai dengan menganalisa bunyi atau ucapan pembicara asli bahasa, kemudian bentuk huruf bahasa tersebut, dan baru dilanjutkan kepada analisa struktur kalimat (sintaksis).

Berangkat dari asumsi di atas, maka teori ini beranggapan bahwa pembelajaran dilakukan dengan pengulangan (repetition), penguatan (reinforcement), peniruan (imitation) sebagaimana teori behaviorisme.

Teori Transformatif – Generatif (النظرية التحويلية التوليدية)

Teori ini dicetuskan oleh Noam Chomsky pada tahun 1957 ketika ia menerbitkan bukunya yang berjudul “Language Structure”. Teori yang merupakan kebalikan dari teori strukturalisme mengajak para pembelajar bahasa untuk memahami dan menguasai kaidah bunyi, struktur dari bahasa, sehingga ia mampu untuk memproduksi kalimat yang belum pernah ia dengar atau berlatih sebelumnya. Karena kreatifitas dalam memproduksi yang dimiliki pembicara, harus dibekali dengan penguasaan kaidah bahasa terlebih dahulu.

PSIKOLINGUISTIK DAN PEMBELAJARAN BAHASA ARAB

Psikolinguistik sangat erat kaitannya dengan pembelajaran bahasa, karena disamping ruang lingkup pembahasan psikolinguistik mencakup pembahasan fenomena pemerolehan dan pembelajaran bahasa, ia juga membahas bagaimana pembelajaran bahasa yang baik. Begitu juga pembelajaran bahasa Arab, yang meliputi prinsip pendidikan, prinsip psikologis, dan prinsip linguistik, dimana ketiga prinsip ini merupakan titik temu antara linguistik dan dan pembelajaran bahasa. Disini penulis akan memaparkan titik temu psikolinguistik dengan pembelajaran bahasa Arab berdasarkan prinsip pendidikan, psikolois dan linguistik.

PRINSIP PENDIDIKAN

Prinsip ini berkaitan dengan komponen kurikulum yaitu: tujuan, metode, materi dan evaluasi pembelajaran. Dalam menentukan tujuan pembelajarannya, seorang guru bahasa Arab harus mempertimbangkan beberapa hal, diantaranya: motivasi, kemampuan, perbedaan individu, dll. Sedangkan metode pembelajaran bahasa, harus mengikuti pendekatan atau teori pembelajaran yaitu behaviorisme atau kognitivisme. Beberapa metode dengan pendekatan behaviorisme adalah metode langsung (الطريقة المباشرة) audiolingual (الطريقة السمعية الشفوية) sedangkan metode dengan pendekatan kognitivisme diantaranya metode silent way (الطريقة الصامتة) kaidah-tarjamah (طريقة القواعد والترجمة). Begitu juga dalam materi pembelajaran bahasa Arab, kita juga harus menyesuaikan materi dengan kecenderungan pelajar (ميول الطلاب), signifikansi materi (أهمية) untuk pelajar.

PRINSIP PSIKOLOGIS

Dari sudut prinsip psikologis, kita dapat melihat hubungan antara psikolinguistik dengan pembelajaran bahasa dari kaitan metode pembelajaran bahasa dengan teori psikologi pembelajaran. Ada 2 teori besar psikologi pembelajaran yaitu behaviorisme dan kognitivisme. Teori behaviorisme memfokuskan pembelajaran dengan teknik pembiasaan, pengulangan, peniruan, penguatan dan pengaruh, dimana teknik ini sesuai dengan metode langsung  yang membiasakan pelajar dengan bahasa tujuan dengan meninggalkan bahasa asli pelajar, begitu juga audiolingual yang memfokuskan pembelajaran bahasa dengan meniru dan mengulang-ulang pelajaran bahasa.

Sedangkan teori kognitivisme memfokuskan pembelajaran bahasa dengan teknik pemahaman dan pendalaman dari segi kemampuan bahasa (الكفاية اللغوية) daripada performansi bahasa(الأداء اللغوي) tersebut sebagaimana yang didengungkan oleh behaviorisme. Konsep ini sesuai dengan metode kaidah-tarjamah dan metode silent way.

PRINSIP LINGUISTIK

Dari sudut prinsip linguistik, kita dapat melihat hubungan antara psikolinguistik dengan pembelajaran bahasa dari kaitan metode pembelajaran bahasa dengan teori linguistik. Teori linguistik adalah teori yang mengkaji analisa bahasa, dimana ada 2 aliran besar yaitu: strukturalisme dan transformatif-generatif-.

Strukturalisme menganggap asal bahasa adalah ucapan-ucapan yang dalam perjalanannya dirumuskan dengan tujuan memudahkan pembelajar bahasa. Sehingga pembelajaran bahasa mestinya diajarkan dengan teknik peniruan, pembiasaan, pengulangan, sebagimana pandangan behaviorisme. Sedangkan transformatif-generatif menganggap kaidah merupakan jembatan yang menghubungkan antara penutur dengan pendengar, sehingga keduanya harus menguasainya agar komunikasi seimbang. Sehingga terori ini berpandangan bahwa pembelajaran bahasa hendaknya memfokuskan kepada penguasaan kaidah bahasa tujuan sehingga mampu berkomunikasi nantinya.

KESIMPULAN

Pengertian psikolinguistik berdasarkan ruang lingkupnya adalah ilmu yang mempelajari aktifitas berbahasa manusia, baik pemerolehan, pemahaman dan penggunaan bahasa. Sedangkan pembelajaran bahasa Arab adalah bidang yang membahas teori, metode, teknik untuk memberi kemampuan kompetensi bahasa (mendengar, berbicara, membaca, menulis) bahasa tujuan kepada pelajar. Baik psikolinguistik maupun pembelajaran bahasa Arab mempunyai bidang kajian yang sama yaitu bahasa, disamping itu keduanya juga termasuk linguistik terapan (applied linguistics). Sehingga keduanya mempunyai kaitan yang sangat erat, maka seorang guru disamping menguasai prinsip pendidikan ia juga harus mengerti prinsip-prinsip psikologi dan linguistik yang merupakan kajian psikolinguistik.

Di dalam kurikulum pendidikan bahasa pada lembaga pendidikan tenaga kependidikan mata kuliah psikolinguistik dimasukkan dalam kelompok mata kuliah proses belajar-mengajar, dan bukan pada kelompok mata kuliah linguistik/kebahasaan. Ia semua menandakan besarnya peranan ilmu psikolinguistik terhadap pembelajaran bahasa Arab.

DAFTAR PUSTAKA:

Abdul Chaer, 2003, Psikolinguistik : Kajian Teoretik, PT Rineka Cipta, Jakarta

Abdul Chaer & Leonie Agustina, 2010, Sosiolinguistik: Perkenalan Awal, Jakarta: Rineka Cipta

Ibnu Jinni, 1983, Al-Khashais, Bairut: Alam al-Kutub

Henry Guntur Taringan, 1986, Psikolinguistik, Bandung : Angkasa

Cazacu Tatlana Slama, 1973, Introducation To Psycholinguistics, Paris: Mouton

Al Tsa`labi, Fiqhul Lughoh Wa Sirru Al Arabiyah, Kairo: Darul Makrifah

Dihyatun Masqon, Al Lughoh Al Arobiyah: Ta`allumuhaa Wa Taklimuhaa

Abdul Aziz Bin Ibrahim Asyly, 1999, Al Nadzariyaat Al Lughowiyah Wa Al Nafsiyah Wa Taklimu Al Lughoh Al Arabiyah, Riyadh: Jami`ah Imam Bin Sa`ud Al Islamiyah

Rusdy Tu’aimah, Al Marjak Fi Ta’limil Lughoh Al Arabiyah Linnaatiqiin Bi Lughotin Ukhro, juz 1, Saudi: Jami`Ah Ummul Qura

Rusdy Tu`aimah, Taklimu Al Arabiyah Li Ghoiri An Natiq Biha: Manaahijuhu Wa Asalibuhu

Mahmud Kamil Naqoh, 2003, Thoroiq tadris al lughoh al Arabiyah li ghoiri natiqiin bihaa, Kairo: Munaddzomah Islamiyah Li Tarbiyah Wa Al Ulum

Diklat Profesi Guru, lptk fakultas tarbiyah iain sunan ampel, 28 juni 2010

Abdul Majid `Azali, Ta`Allum Al Lughot Al Khayyah Wa Taklimuha: Baina Nadhariyyah Wa Tadbiq, Kairo: Maktabah Lubnan

Abdurrahman Ibrahim Fauzan, 2011, Idhoaat li muallimi Al Lughoh Al Arabiyah li Ghoiri Al Natiqiin Bihaa, Riyad: Al Arabiyah Li Jami`

Ali Madzkur, Khasaais Al Mu`Allim Al Asry Wa Adwaaruhu: Al Isroof Alaihi Wa Tadribuhu, Kairo: Darul Fikr

Abdul Majid Ahmad mansur, 1982, Ilmu Al Lughoh Al Nafsy, Riyad: Jami`ah Malik Sa`ud


[1] Penulis adalah dosen dan alumni Institut Studi Islam Darussalam tahun 2011

[2] Abdul Chaer, Psikolinguistik : Kajian Teoretik, PT Rineka Cipta, Jakarta , 2003, hal: 12

[3] Ibid, hal: 9

[4] Abdul Chaer & Leonie Agustina, Sosiolinguistik: Perkenalan Awal, Jakarta: Rineka Cipta, 2010, hal: 14

[5] Ibnu Jinni, Al-Khashais, Bairut: Alam al-Kutub, 1983, hal: 33

[6] Op, cit, Abdul Chaer, Psikolinguistik, hal: 13

[7] Fonologi adalah bidang ilmu yang objek bahasannya adalah fonem (bunyi), morfologi: ilmu yang mengkaji morfem (bentuk kata), sintaksis: ilmu yang mengkaji tentang struktur bahasa, sedangkan simantik: ilmu yang mengkaji makna kata. Lihat: Abdul Chaer, Psikolinguistik, hal: 38-45.

[8] Henry Guntur Taringan, Psikolinguistik, Bandung : Angkasa, 1986, hal: 3

[9] Cazacu Tatlana Slama, Introducation To Psycholinguistics, Paris: Mouton, 1973, hal: 39

[10] Op, Cit, Abdul Chaer, Psikolinguistik, hal: 8

[11] Al Tsa`labi, Fiqhul Lughoh Wa Sirru Al Arabiyah, Kairo: Darul Makrifah, hal: 25

[12] Dihyatun Masqon, Al Lughoh Al Arobiyah: Ta`allumuhaa Wa Taklimuhaa, hal: 5

[13] Abdul Aziz Bin Ibrahim Asyly, Al Nadzariyaat Al Lughowiyah Wa Al Nafsiyah Wa Taklimu Al Lughoh Al Arabiyah, Riyadh: Jami`ah Imam Bin Sa`ud Al Islamiyah, 1999, hal: 6-7

[14] Rusdy Tu’aimah, Al Marjak Fi Ta’limil Lughoh Al Arabiyah Linnaatiqiin Bi Lughotin Ukhro, juz 1, Saudi: Jami`Ah Ummul Qura, hal: 125

[15] Rusdy Tu`aimah, Taklimu Al Arabiyah Li Ghoiri An Natiq Biha: Manaahijuhu Wa Asalibuhu, hal: 49

[16] Ibid, hal: 66

[17] Mahmud Kamil Naqoh, Thoroiq tadris al lughoh al Arabiyah li ghoiri natiqiin bihaa, Kairo: Munaddzomah Islamiyah Li Tarbiyah Wa Al Ulum, 2003, hal: 69

[18] Diklat Profesi Guru, lptk fakultas tarbiyah iain sunan ampel, 28 juni 2010

[19] Op, cit, Thoroiq tadris al lughoh al Arabiyah li ghoiri natiqiin bihaa, hal: 71

[20] Abdul Majid `Azali, Ta`Allum Al Lughot Al Khayyah Wa Taklimuha: Baina Nadhariyyah Wa Tadbiq, Kairo: Maktabah Lubnan, Hal: 42

[21] Op, Cit, Rusdy Tu’aimah, Al Marjak Fi Ta’limil Lughoh Al Arabiyah Linnaatiqiin Bi Lughotin Ukhro, hal: 228

[22] Abdurrahman Ibrahim Fauzan, Idhoaat li muallimi Al Lughoh Al Arabiyah li Ghoiri Al Natiqiin Bihaa, Riyad: Al Arabiyah Li Jami`, 2011, hal: 23

[23] Ali Madzkur, Khasaais Al Mu`Allim Al Asry Wa Adwaaruhu: Al Isroof Alaihi Wa Tadribuhu, Kairo: Darul Fikr, hal: 31

[24] Abdul Majid Ahmad mansur, Ilmu Al Lughoh Al Nafsy, Riyad: Jami`ah Malik Sa`ud, 1982, hal: 43-46

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s